Konsep, Ciri Dan Fungsi Berpikir Diakronik

seputarkelas.com – konsep, ciri dan fungsi berpikir diakronik Peristiwa sejarah merupakan peristiwa yang telah terjadi di masa lalu dan memiliki keterkaitan dengan peristiwa, tempat dan asal-usul suatu hal di masa saat ini. Ilmu sejarah sendiri merupakan ilmu yang mempelajari peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kehidupan manusia di masa lalu. Kajian ilmu sejarah menggolongkan sejarah menjadi dua bagian yakni sejarah sebagai peristiwa dan sejarah sebagai kisah.

Definisi Konsep Berpikir Diakronik

Konsep berpikir diakronik memandang sejarah sebagai sejumlah perisitwa atau rangkaian kejadian yang saling berhubungan satu dengan lainnya. Dalam konsep berpikir diakronik, sejumlah peristiwa tersebut bukan hanya sekedar urutan kejadian melainkan deretan kejadian yang saling mempengaruhi dan dipengaruhi. Konsep berpikir diakronik juga dikenal sebagai tata cara berpikir secara kronologis dalam menganalisis suatu peristiwa.

Kata diakronik itu sendiri berasal dari Bahasa Latin. Dalam Bahasa Latin, diakronik berasal dari kata “diachronich” yang terdiri dari kata “dia” dan kata “chronicus”. “Dia” memiliki arti “melalui atau melampaui”. Sedangkan “chronicus” berarti “waktu”.

Maka dapat dikatakan bahwa secara harafiah bahwa konsep berpikir diakronik merupakan tata cara berpikir secara berurutan (kronologis) dalam mempelajari dan menganalisis sesuatu. Berpikir diakronik berarti kronologis berupa catatan kejadian-kejadian yang diurutkan berdasarkan pada waktu terjadinya.

Baca Juga : Konsep Berpikir Sinkronik

Ciri Berpikir Diakronik

Ciri-ciri berpikir diakronik diantaranya adalah :

  1. Pengkajian bersifat vertikal. Maksudnya adalah dalam proses pengkajian secara diakronik, berbagai peristiwa sejarah akan dikaji mulai dari awal mula terjadi kejadian tersebut hingga akhir dari kejadian tersebut. Pengurutan ini dilakukan dengan memperhatikan kurun waktu terjadinya peristiwa tersebut.
  2. Proses pengkajian lebih menekankan pada durasi. Hal ini dilakukan karena proses berpikir diakronik mempelajari sejarah dari urutan proses waktu terjadinya.
  3. Mengurai pembahasan pada suatu satu peristiwa
  4. Terdapat konsep perbandingan dalam proses pengkajiannya. Dalam konsep berpikir diakronik, terdapat pembahasan mengenai hubungan kausalitas (sebab-akibat) antar berbagai peristiwa sejarah.
  5. Cakupan kajian lebih luas
  6. Melakukan pengkajian terhadap masa satu peristiwa dengan yang lainnya

Tujuan dan Fungsi Berpikir Diakronik

Mempelajari sejarah melalui konsep berpikir diakronik menempatkan analisis suatu peristiwa terhadap peristiwa lainnya sebagai suatu hubungan yang saling mempengaruhi. Konsep berpikir diakronik menempatkan rentetan-rentetan kejadian sejarah sebagai peristiwa yang memiliki pengaruh pada terjadinya atau munculnya suatu kejadian tertentu.

Melalui pendekatan diakronik, para ahli sejarah melakukan analisis dampak perubahan dari suatu variabel tertentu yang nantinya memungkinkan mereka untuk mengetahui alasan suatu peristiwa terjadi dari keadaan yang ada pada saat itu maupun keadaan sebelumnya.

Fungsi konsep berpikir diakronik diantaranya adalah :

  1. Karena bersifat kronologis, maka konsep berpikir ini membantu mempermudah para ahli untuk membandingkan berbagai peristiwa sejarah yang terjadi pada suatu tempat dengan peristiwa yang terjadi di tempat yang lain dalam kurun waktu yang sama.
  2. Mengurutkan berbagai peritiwa sejarah sesuai dengan urutan waktu kejadian sehingga memudahkan para ahli untuk melakukan rekonstruksi ulang terhadap semua peristiwa yang terjadi di masa lalu.

Contoh Berpikir Diakronik

Periode Demokrasi Liberal Indonesia

Pada tahun 1950-1959, Indonesia menganut sistem politik demokrasi liberal. System demokrasi liberal jika diurutkan secara proses demokrasi liberal dimulai sejak Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Selanjutnya dalam catatan sejarah, terjadi tujuh kali pergantian cabinet dalam kurun waktu 1950-1959. Urutan kabinet yang pernah berkuasa di Indonesia yakni :

  1. Kabinet Natsir (6 September 1950-21 Maret 1951)
  2. Kabinet Sukiman (27 April 1951-3 April 1952)
  3. Kabinet Wilopo (3 April 1952-3 Juli 1953)
  4. Kabinet Ali Sastroamidjojo (31 Juli 1953-12 Agustus 1955)
  5. Kabinet Burhanuddin Harahap (12 Agustus 1955-3 Maret 1956)
  6. Kabinet Ali II (20 Maret 1956-4 Maret 1957)
  7. Kabinet Djuanda (9 April 1957-5 Juli 1959)

Contoh peristiwa sejarah yang dicontohkan di atas merupakan contoh konsep berpikir diakronik. Dimana pada proses pengkajian tersebut dilakukan dengan melakukan pengurutan terhadap rentetan peristiwa-peristiwa tersebut yang selanjutnya dianalisis dengan mempertimbangkan hubungan kausalitas diantaranya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.