Konsep, Ciri Dan Fungsi Berpikir Sinkronik

seputarkelas.com – konsep, ciri dan fungsi berpikir sinkronik “Untuk meramal masa depan, kita harus menguasai masa lalu” itu adalah salah satu kutipan Confusius yang paling terkenal. Bersandar pada kutipan tersebut, maka mempelajari sejarah merupakan salah satu hal yang penting dalam kehidupan manusia. Dalam mempelajari sejarah, kita mengenal dengan yang Namanya cara berpikir sinkronik.

Definisi Berpikir Sinkronik

Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) sinkronik memiliki arti bahwa segala hal yang berhubungan dengan suatu peristiwa atau kejadian pada suatu masa tertentu. Kata sinkronik merupakan suatu kata yang berasal dari Bahasa Yunani, yakni “syn” yang memiliki arti “dengan” dan “chronoss” yang memiliki arti “waktu”.

Mempelajari sejarah melalui konsep berpikir sinkronik memiliki pengertian bahwa dalam mempelajari sejarah berikut dengan berbagai aspeknya pada suatu periode waktu tertentu secara lebih mendalam. Secara keseluruhan dapat disebutkan bahwa konsep berpikir sinkronik merupakan pola belajar pola-pola, gejala serta karakter dari suatu peristiwa sejarah pada suatu masa tertentu.

Konsep Berpikir Sinkronik

Konsep berpikir sinkronik memandang suatu peristiwa sejarah dalam sebuah ruangan dan sudut pandang yang sama. Konsep berpikir sinkronik dapat dilakukan dengan cara memperluas ataupun mempersempit waktu kejadian dari peristiwa tersebut.

Konsep berpikir sinkronis mempelajari suatu aspek pada kurun waktu terbatas dengan sifat horizontal dan dalam pelaksanaannya tidak memiliki konsep perbandingan.

Baca Juga : Konsep, Ciri Dan Fungsi Berpikir Diakronik

Ciri-Ciri Berpikir Sinkronik

Konsep berpikir sinkronik memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

  1. Menitikberatkan kajian peristiwa sejarah pada gejala, pola serta karakter
  2. Bersifat horizontal
  3. Kajian memiliki jangkauan lebih sempit
  4. Mempelajari peristiwa sejarah dalam masa waktu tertentu
  5. Kajian bersifat sangat sistematis
  6. Dalam pengkajiannya bersifat sangat serius dan mendalam
  7. Tidak memiliki konsep perbandingan

Tujuan dan Fungsi Berpikir Sinkronik

Berpikir sinkronik memiliki tujuan yakni untuk mengkaji gejala, pola-pola serta karakter dari suatu peristiwa dalam suatu masa tertentu. Berpikir sinkronik memiliki fungsi untuk mempelajari sejarah secara lebih mendalam tanpa memperhatikan urutan waktunya.

Berpikir sinkronik berfungsi untuk membedah berbagai peristiwa sejarah dengan lebih mendalam dan dilakukan dengan sangat sistematis serta menyeluruh. Fungsi berpikir sinkronik pun agar sebuah peristiwa sejarah dapat diungkap dan diceritakan kembali secara lebih mendetail. Karena dalam berpikir sinkronik dilakukan pengkajian dari segala aspek, pola maupun karakter dari setiap pelaku sejarah itu sendiri.

Selain itu, fungsi berpikir sinkronik diantaranya :

  1. Mendeskripsikan kehidupan masyarakat melalui berbagai penjelasan secara mendetail
  2. Mendeskripsikan kehidupan sosial masyarakat secara lebih meluas
  3. Memandang kehidupan masyarakat sebagai sebuah sistem yang terstruktur dan saling terkait

Contoh Pengkajian Berpikir Sinkronik

Peristiwa Pembacaan Proklamasi 17 Agustus 1945

Lahirnya bangsa Indonesia ditandai dengan peristiwa pembacaan pernyataan kemerdekaan Indonesia yang dikenal dengan Pembacaan Proklamasi 17 Agustus 1945. Peristiwa ini terjadi di Jalan Pengangsaan Timur no.56  Jakarta yang sekarang dikenal dengan nama Jalan Proklamasi. Sebelumnya pembacaan proklamasi direncanakan akan dibacakan di Lapangan Ikada. Namun dengan berbagai pertimbangan, pembacaan proklamasi pun dipindahkan ke rumah Sukarno.

Perubahan tempat pembacaan proklamasi membuat Barisan Pelopor yang tadinya sudah bersiap di Lapangan Ikada terlambat datang ke lokasi pembacaan proklamasi. Setelah mengetahui pemindahan lokasi pembacaan proklamasi, sekitar 100 0rang Barisan Pelopor berjalan kaki dari lapangan Ikada menuju ke rumah Sukarno. Sesampainya di sana, pembacaan proklamasi telah selesai dan mereka menuntut agar Sukarno membacakannya kembali. Namun Bung Hatta menolak permintaan mereka. Bung Hatta kemudian hanya memberikan amanat singkat.

Peristiwa pembacaan proklamasi saat ini dihadiri oleh kurang lebih 500 orang dari segala kalangan. Mereka datang dengan membawa berbagai alat apa pun yang bisa dijadikan senjata. Karena meskipun Jepang telah kalah oleh Sekutu, tapi keberadaan Jepang di Indonesia, terutama di Jakarta masih ada.

Dari contoh di atas, dapat kita lihat bahwa dalam cara berpikir sinkronik, pengkajian peristiwa sejarah meluas pada bidang pengkajian peristiwa tersebut. Dimana dijelaskan bagaimana suasana pembacaan proklamasi, siapa saja yang hadir serta kejadian-kejadian teknis lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.